Ayah Gagahi Anak Kandung Diburu

0

godepokSeputarDepok, Aparat Kepolisian Polresta Depok memburu SH pelaku terduga pemerkosa anak kandungnya sendiri.

Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Depok, Ipda Elia Herawati, menegaskan pihaknya tidak tinggal diam atas kejadian ini. Pihaknya akan berupaya menhejar pelaku yang saat ini belum diketahui keberadaannya.

“Yang jelas kami tak tinggal diam, kami masih terus berusaha mengembangkan hasil penyidikan demi penegakan hukum,”katanya.

Ketua Komnas PA, Arist Merdeka mengatakan dugaan perbuatan cabul tersebut telah dialami korban secara berulang kali hingga menyebabkan trauma.

“Suami dari ibu ini telah melakukan kejahatan seksual terhadap dua putri kandungnya, dan itu dilakukan sejak beberapa kali kejadian yang menurut pengakuan korban,” katanya.

Dia menceritakan pelaku melancarkan aksinya ketika ibu korban sedang bekerja sebagai buruh cuci.

Ternyata, pelaku pernah dipenjara karena kasus pencabulan yang sama.

“Ketika melakukan kejahatan kepada kakaknya itu, si pelaku (ayah) sudah dilakukan vonis dua setengah tahun.

Berdasarkan keterangan korban, aksi pencabukan terjadi sekira 10 kali.

Aksi bejat itu dilakukan pelaku dengan penuh ancaman agar aksinya tak diketahui oleh siapapun.

“Dilaporkannya 4 Oktober 2019, tapi surat terakhir 12 Oktober 2019 yang diterima ibu ini tentang surat perkembangan hasil penyelidikan namun sampai sekarang pelakunya belum ditangkap,”katanya.

Dia mengaku, pihaknya prihatin dengan jalannya kasus ini. Hampir setahun, pelaku tak kunjung ditangkap.

Padahal, si pelaku nyata di sini dan ancamannya juga pasal 81 dari undang-undang nomor 35 tahun 2014 yang di atas 5 tahun.

Ia menyebut, kalau kasus kejahatan termasuk predator seksual, maka ancaman kurungan penjara bisa di atas 5 tahun.

Dan, itu harus sesegera mungkin sudah ditahan jika ada bukti petunjuk dan hasil visum.

“Tapi, sayangnya ibunya mengeluh kok belum ada tindak lanjut. Oleh karena itu kami akan mengantar Ibu ini untuk mempertanyakan itu ke Polres Depok,” ujarnya

Arist melanjutkan, jika terbukti bersalah, maka pelaku dapat dikenakan hukuman yang lebih berat. Apalagi status pelaku diketahui sebagai seorang residivis.

Dalam undang-undang nomor 17 tahun 2016 residivis itu bisa dihukum 15 tahun, seumur hidup atau bahkan di kebiri karena melakukan tindakan kejahatan seksual yang sama dan pernah dihukum.

Aris menambahkan, hukumannya itu bakal semakin berat, karena akan ditambahkan sepertiga dari hukuman yang tertera dalam undang-undang.

Karena dia orang tua kandung. Sementara kalau dia tidak residivis saja tetapi melakukan tindak pidana itu, dia bisa ditambahkan seumur hidup kalau ancamannya 20 tahun penjara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here