Kesaksian Putri DI Panjaitan Saat G30S/PKI: Ayah Ditarik Kasar dan Ditembak di Dahi

0
132

godepok-Jasmerah. Hari ini tepat 53 tahun yang lalu, kekejian pasukan Tjakrabirawa yang terkena hasutan PKI, memaksa dan membunuh para jenderal sebagai fitnah adanya makar dari Dewan Jenderal hasil rekayasa Partai Komunis Indonesia tunas bangsa dan sebagai kesaksian kepada penerus bangsa akan kekejaman PKI saat itu.

Sampai sekarang  kenangan kelam masih membekas di hati terdalam keluarga sang pahlawan, tidak terkecuali Catherine Pandjaitan putri dari anumerta Donald Isaac Pandjaitan salah satu pahlawan Revolusi.

DI Panjaitan dibunuh pada tanggal 1 Oktober 1967 dalam peristiwa itu.

Catherine Panjaitan mengungkapkan kesaksiannya ketika peristiwa terjadi.

Melansir kanal YouTube iNews Talkshow & Magazine pada Selasa (25/9/2018), Catherine mengatakan, antek PKI datang ke rumahnya saat pagi hari tanggal 1 Oktober 1965.

Catherine ketika itu terbangun sekitar pukul 4.00 WIB.

“Banyak suara sepatu boots,” terangnya.

Saat melihat ke luar jendela dari kamarnya di lantai dua, Catherine melihat puluhan orang berseragam tentara telah mengepung rumahnya.

“Mula-mula mereka datang dengan cara mengepung rumah, di depan beberapa truk dan lewat belakang beberapa truk. Kita terbangun karena mereka ribut,” imbuhnya.

“Mereka teriak-teriak ‘Bapak Jenderal..Bapak Jenderal’,” sambungnya.

Catherine menyatakan, saat itu mereka memaksa masuk ke rumah dan menembak pembantu serta pamannya yang berada di lantai dasar.

“Saya sibuk telepon tapi ya jaman dulu kan paralel itu di bawah dan di atas, mereka menggunting jadi kan enggak bisa cari bantuan,” tegasnya.

Mereka kemudian sampai di tangga dan teriak memanggil DI Panjaitan.

Saat itu DI Panjaitan sedang sibuk menghubungi beberapa pihak hingga kemudian sang istri, Marieke Pandjaitan yang menjawabnya.

“Ibu saya bilang ‘Ya pakai pakaian dulu’,” imbuh Chaterine.

Usai memakai seragam lengkap, DI Panjaitan turuh ke bawah dari lantai dua kediamannnya.

Sebelum turun, ia sempat memandang wajah sang buah hati.

Chaterine yang berusia 17 tahun saat itu mengungkapkan ingin menemani sang ayah ketika beranjak ke lantai bawah.

Meski demikian, keinginannya itu dilarang oleh DI Panjaitan.

“Menurut rekonstruksi, mereka menarik ayah saya secara paksa keluar,” imbuhnya.

Seorang berseragam hijau dan topi baja berseru, “Siap. Beri hormat”.

Namun, DI Panjaitan hanya mengambil topi dan mengapitnya di ketiak kiri.

Adanya aksi itu, si tentara memukul Panjaitan dengan gagang senapan dan kemudian jatuh.

“Saya naik ke balkon mau lihat apa kelanjutannya, saya lihat ayah saya disuruh hormat terhadap perwira. Ayah saya tidak mau dan langsung dipukul,” sambungnya.

Chaterine menegaskan, DI Panjaitan jatuh ketika dipukul dan dirinya lari turun ke bawah untuk melihat kelanjutan peristiwa itu.

Namun, sesampainya di lantai bawah kediamannya, Chaterine mengatakan sosok DI Panjaitan sudah tak ada lagi.

“Ternyata ditembak di dahinya tapi pas saya turun udah enggak ada lagi. Ayah saya diseret dan dilempar lewat gerbang karena gerbang dikunci. Dilempar seperti binatang,” jelasnya.

Jenazah DI Panjaitan itu dibuang ke dalam yang dibuat di sekitar bandara Halim Perdanakusuma saat itu dan sekarang bernama Lubang Buaya.

Lubang Buaya merupakan tempat di kawasan Pondok Gede, Jakarta yang menjadi tempat pembuangan para Korban G30S/PKI.

Chaterine juga membenarkan jalan cerita film G30S/PKI merupakan benar adanya karena ia ikut terlibat dalam memberikan kesaksian peristiwa itu.

“Persis almarhum Arifin C Noer (red: sutradara) gambarkan,” imbuhnya.

Chaterine juga menyatakan, Arifin C Noer melakukan wawancara satu per satu dengan saksi peristiwa G30S/PKI l, termasuk kepada keluarganya untuk menampilkan adegan demi adegan sebagai reka ulang dalam kejadian nyata pada saat itu.(bhimo godepok)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here