MUI Waswas Sertifikasi Halal Memberatkan UMKM

0
8

godepok/MUI/Sertifikat Halal –  Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama memastikan seluruh produk, termasuk hasil produksi UMKM wajib bersertifikat halal mulai 17 Oktober 2019, sementara itu MUI yang mengeluarkan sertifikat halal tersebut mengawatirkan justru memberatkan para pelaku Usaha Mikro, kecil, dan Menengah (UMKM) tanah air dari segi biaya.

“Ini jangan sampai penerapan ini kemudian mengganggu laju pertumbuhan UMKM, atau bahkan terjadinya banjir produk masuk UMKM dari luar. Itu yang harus kita antisipasi,” kata Ketua MUI Bidang Ekonomi, Lukmanul Hakim di Gran Sahid Hotel, Jakarta, Sabtu (21/9/2019).

Karena proses penerbitan label halal dari MUI bagi sebuah produk selama ini bisa diproses kurang lebih selama 43 hari, maka akan ada prosedur tambahan yang harus diterima oleh para pelaku usaha dalam memenuhinya dengan adanya keputusan yang baru itu.

“Jadi kebijakan penerapan itu harus ditilik juga, bukan hanya sekedar kesiapan, tapi impact dari penerapan itu apakah bisa meningkatkan laju pertumbuhan UMKM atau tidak,” jelas dia.

Lukmanul mengungkapkan, tambahan prosedur penerbitan label halal juga dari segi biaya akan ada tambahan yang harus ditanggung para pelaku UMKM, Selama ini, biaya di MUI menelan sebesar Rp 2,5 juta per satu perusahaan sudah cukup memberatkan bagi pelaku UMKM.

Tercatat, sudah ada sekitar 11.249 perusahaan per 2018 yang sudah menerima sertifikat halal dari MUI tetapi mayoritas yang memiliki label halal tersebut adalah para perusahaan besar.

Sedangkan pelaku UMKM, kata Lukmanul, hanya sekitar 20 persen. Oleh karenanya, adanya tambahan prosedur hingga biaya harus ditanggapi serius oleh Pemerintah. Sehingga, kewajiban mensertifikatkan produk tidak memberatkan UMKM.

Apalagi, UMKM merupakan tulang punggung perekonomian nasional. Di mana, 60 persen ekonomi nasional ditopang oleh pelaku UMKM.

“Makanya kita berharap pemerintah masuk terlibat di dalam sertifikasi halal UMKM itu karena kemudian ada yang bisa menyelesaikan masalah pembiayaan ini,” ungkap Lukmanul.

“Ketika isu halal diangkat, mereka akan mendapat kesulitan, kalau itu sifat mandatori maksud saya ya. Maka kemudian kita berharap pemerintah ikut campur. Dalam konteks apa ikut campur? Dalam konteks pembiayaan. Karena kalau tanpa pembiayaan dibantu, ya angka berapapun untuk UMKM mah berat,” sambungnya.(bhimo godepok)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here