Sejarah Sebutan Belanda Depok (Bagian II)

0
220
Pelajar di era Kolonial Belanda

Sebutan para pekerja Cornelis Chastelein dengan status mereka yang sudah independen alias manusia yang merdeka sebagai Belanda Depok, sesungguhnya sebutan salah kaprah dan tidak kondusif.

Depok sebagai tempat mereka bermukim seolah-olah memberi pembenaran bahwa keberadaan mereka identik dengan masyarakat belanda yang ada di Indonesia.

Sebutan yang merupakan penafsiran yang salah itu erat kaitannya dengan keberadaan orang-orang Belanda yaitu Cornelis Chastelei.

Kesalahkaprahan ini ditulis di sebuah bulletin bernama “Mededeelingen van wege het Nederlandsh Zendelingengengnootschap” dengan artikel berjudul “Land en Volkenkunke van Nederlandsch-Indie, Depok, eene ethnografische stuide” ditulis oleh seorang pakar ethnologi asal Belanda bernama Graafland pada tahun 1891.

Tulisan ini seperti yang sudah dijelaskan di kalimat pendahuluan, diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia sebagai berikut : Adalah sulit untuk menggolongkan kaum Depok dalam dalam tipe kaum pribumi tertentu, mereka sejak awal sudah merupakan suatu mixtum compositium atau komposisi campuran dari berbagai suku bangsa yaitu : Bali, Makassar, Minahasa, Timor yang kemudian memiliki keturunan dari perempuan-perempuan asal Melayu, Sunda, Jawa dan Eropa.

Inilah yang pada akhirnya membentuk karakter masyarakat Depok seperti yang sekarang. Kehidupan Kaum Depok sendiri seperti yang telah diamati, kecuali dalam hal agama, perkembangan mereka tidak dipengaruhi oleh apa pun. Ritual keagamaan kala itu kurang pegang peranan, namun dalam pertanian mereka makmur.

Mereka tidak mengaitkan agama yang mereka anut dengan keberadaan mereka di dalam masyarakat, andai pun mereka membedakan diri dari penduduk yang beragama Islam, mereka tidak menyebutkan diri sebagai orang Kristen.

Itu sebabnya, kaum ini menamakan diri sebagai Orang Depok Dalam atau Orang Melayu. Jadi sulit untuk mengatakan dari suku apa sesungguhnya kaum depok.

Seperti yang dituturkan di atas, penyusunan konsep surat wasiat sebelum Cornelis meninggal terus-menerus dilakukan. Ia tahu bertapa penting surat-surat itu ke depannya bagi para pekerjanya. Akhirnya pada tanggal 13 Maret 1714 revisi terakhir surat wasiat itu selesai dibuat.

Surat tersebut beradasarkan hukum yang berlaku : Kaum Depok setelah dibebaskan dari perbudakan oleh Cornelis sendiri. Mereka memeroleh lahan seluas 1.244 Ha secara bersama, bukan individual.

Menurut hukum, surat wasiat itu berlaku setelah ia meninggal dunia, tepatnya pada tanggal 28 Juni 1714.

Sejak itu kaum Depok menjadi individu yang merdeka, mereka memiliki hak asasi untuk menentukan jalan hidup mereka ke depannya.

Pemerintah Hindia-Belanda sendiri baru menghapuskan perbudakan pada 1 Januari 1860 dan pembebasan kaum Depok dari perbudakan 146 tahun lebih awal. Ini merupakan tindakan yang sangat progresif dan revolusioer.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, keberadaan Kaum Depok sangat erat kaitannya dengan kiprah Cornelis Chastelein di Indonesia.

Cornelis sendiri hidup di jaman VOC. Pemerintah VOC mengambil alih pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1798.

Untuk menjelaskan asal-usul nama marga Kaum Depok yang menimbukan beragam kontrovesi itu tak ada salahnya kita kembali ke jaman VOC, jaman di mana Cornelis Chastelein menjalani hari-harinya sebagai kepala akuntansi/boekhoud.

Sumber: Cornelis Chastelein: Sang Penemu Depok

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here