Serat Keramat Suryorojo Terancam Punah Trah HB II Gandeng Magaradhwaja Gagas Pusat Studi Naskah Kuno

0

godepok- Nasional, Naskah Jawa Kuno klasik di abad 16 -18 merupakan salah satu aset nasional yang berisi tentang pengetahuan budaya nenek moyang masyarakat lokal.

Hingga saat ini penelitian dan informasi tentang naskah kuno itu sendiri masih rendah karena kurangnya orang yang berkecimpung dalam hal ini.

Keberadaan naskah naskah kuno saat ini tersebar di masyarakat, museum-museum, maupun perpustakaan nasional.

Saat ini kondisi dari naskah naskah jawa kuno klasik yang tersebar di masyarakat dalam keadaan rusak dan tidak terpelihara dengan baik.

Banyak naskah naskah jawa kuno klasik di Indonesia yang saat ini masih banyak yang belum diketahui lokasi pastinya.

Beberapa bahkan berada di negara lain seperti Belanda, Perancis, Jepang, dan Inggris.

“Iya di Belanda juga ada tapi bentuknya bukan naskah kuno, di sana lebih ke klasik. Kalau yang kuno itu ada di London, dan belum diteliti diteliti salah satu Kangjeng Kyai Serat Suryorojo digubah Sultan Hamengkubuwana II yang memaparkan masalah Pedoman Kenegaraan untuk Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang diuraikan dalam bentuk naratif vīracarita ”. ujar Fajar Bagoes Poetranto Trah Sultan Hamengkubuwono II pada Rabu(22/9).

Bagoes berencana mengandeng Rumah Studi Jawa Makaradhwaja mengembangkan Pusat Skriptorium naskah naskah klasik kuno dari abad 16 sampai dengan abad 18 rencana pembelajaran akan digelar secara umum dalam waktu dekat.

Sementara itu, Ahli Filologi KRT Manu J Widyaseputra, mengatakan naskah-naskah yang akan dipelajari dan diterjemahkan antara lain Serat Keramat Kangjeng Kyai Suryorojo, Babad Sepei, Babad Segaluh.

Babad Sengkala ,Babad Giyanti Brangtakusuman, Serat Arjunawijaya, Serat Ramabadra Jawi, Serat Beksan Menak Mangkarawaten, Serat Srimpi Jemparingan. Babad Sengkala , Serat Bedhaya Tunjung Anom, Serat Arjunawijaya, Serat Ramabadra Jawi, Serat Beksan Menak Mangkarawaten, Serat Srimpi Jemparingan.

“Ada Babad Giyanti Brangtakusuman,Serat Menak Brangta,Serat Ménak Rengganis, Serat Menak Ganggamina-Ganggamurti,” ujar Manu yang juga pendiri Rumah Studi Jawa Makaradhvaja ini.

Menurut Manu, peminat untuk baca dan mengerti naskah kuno itu banyak dari luar negeri. Seperti naskah kuno di museum di Belanda dan Inggris yang dipamerkan tanpa mengerti isinya.

“Jepang mau belajar baca dan menterjemahkan naskah naskah kuno, tapi mereka bingung kemana belajarnya,”katanya.(AH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here