Tawuran Marak, Dewan Merasa Prihatin

0

godepok-SeputarDepok. Aksi tawuran siswa atau remaja hingga menimbulkan korban jiwa mendapat rasa prihatin dari anggota Komisi D DPRD Kota Depok.

Anggota Komisi D DPRD Kota Depok, Rezky M Noor, merasa prihatin dengan aksi tawuran para siswa sekolah, apalagi sampai menggunakan senjata tajam.

“Kami harap kepada pihak penyelengara sekolah atau lembaga pendidikan untuk lebih memperhatikan pembinaan mental terhadap anak didiknya,” katanya.

Dia prihatin dengan kejadian tawuran yang dilakukan oleh para pelajar.

Banyaknya kejadian tawuran di kalangan pelajar ini, katanya, dipicu oleh berbagai faktor.

Antara lain saat ini semakin kurang tempat bagi remaja untuk menunjukkan eksistensi/ekspresi mereka.

Masalah lain yang jadi pemicu tawuran tersebut, tambahnya, adalah kurangnya waktu berkomunikasi antara anak dan orang tua di rumah, serta guru di sekolah.

Menurut dia, keberhasilan tidak selalu ditentukan dari tingkat kecerdasan intelegensi akan tetapi sikap mental dari para siswa.

“Sebagai bentuk pemberian efek jera terhadap siswa yang terlibat tawuran, pelajar tersebut mesti mendapat sanksi berupa hukuman, namun bersifat mendidik,” katanya.

Namun, katanya, jangan memberikan hukuman yang tidak mendidik, contohnya seperti menjemur di lapangan terbuka, hukuman tersebut dinilai sangat tidak mendidik.

Sebab, lanjut dia, hukuman tersebut tidak mendatangkan manfaat positif bagi pelajar lingkungan sekolah, bahkan sanksi itu dapat menciptakan kemunduran mentalitas dan pelajar akan bertambah sulit diatur.

Dikatakannya agar ke depan tidak lagi terjadi tawuran antarsesama pelajar, DRPD meminta kepada Disdik harus mengambil sikap dan tindakan terhadap palajar dan sekolah yang sering melakukan aksi tawuran.

Menyelesaikan tawuran tidak cukup dengan upaya parsial, tapi harus holistik, menyeluruh alias melibatkan semua pihak. Pemerintah, aparat, sekolah, orang tua murid, hingga para alumni sekolah

“Oleh karena itu untuk menunjukan diri mereka eksis dan diakui oleh  lingkungannya, maka salah satu caranya dengan menunjukan ekpresi mereka dalam bentuk negative, seperti tawuran,” katanya.

Untuk itu, lanjutnya, berbagai pihak terkait harus bisa menyediakan sarana ekspresi bagi remaja, seperti tempat olahraga dan kesenian.

Olahraga bisa mengajarkan setiap orang untuk berkompetisi secara sportif.

Dia juga menyarankan kepada orang tua siswa dan guru untuk selalu memantau kegiatan anaknya apalagi saat ini proses Kegiatan Belajar Mengajar masih dilaksanakan online.

“Kami mengaku prihatin jika generasi muda sering terlibat tawuran dan menyangkan terkait generasi bangsa yang ada pada tangan mereka,” katanya.

Dia juga mengimbau kepada dinas terkait untuk melakukan razia senjata tajam dimana dikabarkan mereka para pelajar membeli senjata yang digunakan untuk tawuran dibeli dengan cara online.

“Kami juga himbau jika ada kerumunan atau siswa bergerombol untuk diantisipasi,” katanya.

Masalah tawuran remaja jangan dianggap kecil atau remeh karena sudah membahayakan dan perlu dicegah sedinimungkin.

Sebelumnya, satu remaja ditemukan tewas sementara satu lainnya mengalami luka parah akibat tawuran dua kelompok remaja di Jalan Raya Ciputat-Parung di Kecamatan Bojongsari.

Korban meninggal adalah MS (16). Korban berstatus pelajar kelas XI.

Selain korban meninggal dunia, ada juga korban luka.

“Yang luka MI (19), pelajar juga,” kata Kasat Reskrim Polrestro Depok Kompol Wadi Sabani, Jumat (30/10).

Korban mengalami luka bacok di punggung.

Luka itu yang menyebabkan korban MS meninggal dunia.

“Pelaku dan korban diduga melakukan tawuran sehingga korban mengalami luka bacok di bagian punggung yang mengakibatkan korban meninggal dunia,” ungkapnya.(dro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here