Tersangka Korupsi e-KTP Tembus Sampai 9 Angkatan Dari Irman, Novanto hingga Tannos

0

godepok-Nasional. Kembali KPK  menetapkan empat orang tersangka baru kasus dugaan korupsi Mega proyek e-KTP, sampai saat ini, ada 14 orang yang telah diproses  menjadi tersangka kasus dugaan korupsi e-KTP dari sembilan angkatan.

Empat tersangka teranyar yang ditetapkan KPK adalah eks Anggota DPR dari Fraksi Hanura Miryam S Haryani, Direktur Utama Perum Percetakan Negara RI dan Ketua Konsorsium PNRI Isnu Edhi Wijaya, Direktur Utama PT Sandipala Arthaputra Paulus Tannos serta Ketua Tim Teknis Teknologi Informasi Penerapan e-KTP Husni Fahmi.

“Sampai saat ini total KPK telah memproses 14 orang dalam perkara dugaan korupsi pengadaan KTP Elektronik ini dan perkara terkait, yaitu obstruction of justice dan kesaksian palsu,” kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang dalam konferensi pers di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (13/8/2019).

Keempatnya dijerat melanggar Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP. Namun, keempatnya diduga memiliki peran masing-masing dalam rangkaian kasus ini.

Keempat orang ini merupakan tersangka angkatan kesembilan yang diproses KPK.

Teranyar, KPK menjerat empat tersangka pada Agustus 2019. Pertama ialah Miryam yang ditetapkan KPK sebagai tersangka karena diduga meminta USD 100 ribu kepada Dirjen Dukcapil Kemendagri saat itu, Irman, untuk membiayai kunjungan kerja Komisi II ke beberapa daerah. Uang tersebut kemudian diserahkan ke perwakilan Miryam.

Dia diduga menerima beberapa kali uang dari Irman dan Sugiharto sepanjang 2011-2012. Saut menyebut Miryam diduga diperkaya USD 1,2 juta terkait proyek e-KTP. 

Kedua, ada Isnu yang menjabat Ketua Konsorsium PNRI saat proyek tersebut bergulir. Konsorsium PNRI terdiri dari Perum PNRI, PT Sandipala Arthaputra, PT LEN Industri, PT Quadra Solution, dan PT Sucofindo. Konsorsium itulah yang ‘diatur’ untuk memenangi lelang proyek e-KTP.

“Sebagaimana telah muncul di fakta persidangan dan pertimbangan hakim dalam perkara dengan terdakwa Setya Novanto, Manajemen bersama Konsorsium PNRI diperkaya Rp 137,98 miliar dan Perum PNRI diperkaya Rp 107,71 miliar terkait proyek e-KTP ini,” ucap Saut Situmorang.

Lalu, ada nama Paulus Tannos, yang merupakan Direktur Utama PT Sandipala Arthaputra saat proyek ini berjalan. Dalam Akta Perjanjian Konsorsium disebutkan perusahaan itu bertanggung jawab atas pekerjaan pembuatan, personalisasi, dan distribusi blangko e-KTP. Nama Paulus pernah diseret Novanto ketika bersaksi dalam persidangan. Novanto mengaku pernah diberitahu Paulus tentang dirinya sebagai orang dekat Gamawan Fauzi yang saat itu menjabat Menteri Dalam Negeri (Mendagri).

Terakhir, ada nama Husni yang berasal dari BPPT. Husni berperan sebagai Ketua Tim Teknis Proyek e-KTP. Dia aktif mengikuti berbagai pertemuan terkait proyek e-KTP. Saut menyebut Husni diduga diperkaya USD 20 ribu dan Rp 10 juta terkait proyek ini. (bhimo godepok)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here