Warga Keluhkan Lambannya Penanganan Jenazah Covid

0

godepok-SeputarDepok, Seorang warga Depok kembali ditemukan tewas dengan kondisi misterius pada Jumat 9 Juli 2021.

Ironisnya lagi, pihak keluarga sempat kebingungan mengurus jenazah korban lantaran sulitnya menghubungi petugas penanganan COVID-19.

Nasib tragis itu dialami Ade Aditia Setiadi (32 tahun), warga Kelurahan Pancoran Mas, Kecamatan Pancoran Mas, Depok.

Menurut penuturan sang kakak, Edwin Sumampauw, adiknya itu ditemukan tewas sekira pukul 06:00 WIB.

Edwin sendiri tak bisa berbuat banyak lantaran ia, bersama istri dan anaknya sedang terpapar COVID-19 dan terpaksa isolasi mandiri.

Jarak antara rumah Edwin dengan kediaman korban hanya dibatasi pintu kecil.

Ia mengaku telah mencoba menghubungi pihak kelurahan maupun satgas penanganan COVID setempat, namun sayangnya tidak mendapat tanggapan serius.

Respon baru muncul setelah ia mengungkapkan kesedihannya itu pada awak media. Barulah, sekira pukul 10:55 WIB, tim penanganan COVID akhirnya tiba di rumah duka.

“Tadinya cuma kami tutupin sarung. Sudah anak keterbelakangan mental, ibu nya nggak bisa jalan, jenazahnya masih aja di telantarin,” ujarnya.

Belakangan diketahui, Edwin dan istri rupanya telah berusaha agar sang adik dan orangtua bisa dilakukan pemeriksaan swab PCR.

Namun sayangnya, hingga ajal menjemput, ia dan keluarga tak mendapat perhatian seperti yang dijanjikan Pemerintah Kota Depok.

“Ibu kami inikan posisinya tidak bisa berjalan normal, dikursi roda. Adik saya (almarhum) ini down syndrome, keterbelakangan mental jadi tidak bisa kita bawa semau kita, seperti orang normal,”katanya.

Disisi lain dia dan istri positif, satu-satunya alternatif adalah menggunakan jasa klinik atau tim medis swasta yang bersedia datang ke rumah.

Namun Edwin tak sanggup, karena terbentur biaya.Terlebih akhir-akhir ini ia tak punya penghasilan lantaran teradang PPKM Darurat.

“Saya sudah coba hubungi satgas agar adik kami, dan ibu kami ini bisa ikut diswab, tapi nggak ada jawaban, sudah nggak ada jawaban sama sekali.” terangnya.

Karena tidak tahu apakah terpapar atau tidak, Edwin akhirnya hanya memberikan sang adik obat-obatan seadanya yang ia beli dari warung terdekat.

“Adik saya ini mulailah batuk-batuk sudah kita kasih segala macem, obat-obatan warung dan kita kasih minum. Akhirnya semalam tuh puncaknya. Tadi pagi kita lihat sudah enggak ada (meninggal),” tuturnya dengan suara terisak sedih.

Lebih lanjut Edwin mengaku, sejak dirinya bersama anak dan istri dinyatakan terpapar COVID-19 pada 21 Juni lalu, sampai sekarang belum mendapat perhatian dari pemerintah kota ini.

Bahkan, ia tak tahu jika ada program Kampung Tangguh ataupun Kampung Siaga.

“Kampung siaga COVID gimana? Di sini nggak ada Kampung Siaga COVID, saya tanya sama RT juga nggak ada. Jadi nggak ada apa-apa.”katanya.

Kini Edwin hanya bisa berharap agar pemerintah serius dalam memberikan pelayanan pada warganya.

“Sudah cukuplah adik kami yang jadi korban,” katanya seraya menutup saluran telepon.(AH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here